Minggu, 15 September 2013

Pembawa Kebahagiaan

“Tak henti ku telaah arti kehadiranmu. Namun hanya tawa yang terbaca, kau hanya diutus Tuhan tuk sampaikan rasa bahagia.”
Tuhan Maha Kuasa, ya, Dia bisa saja memberi kita segalanya atau bahkan mengambil segalanya dari kita. Tinggal kita minta saja apa yang kita inginkan dalam doa, maka akan terwujud sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh-Nya.

Ingat kata-kata, "Semua akan indah pada waktuNya" kan? Iya, demikianlah kenyataannya. Waktu yang ditentukan olehnya tak pernah salah. Percaya? Silahkan. Tidak percaya pun itu hak asasi masing-masing umat manusia yang tak dapat diganggu gugat karena menyangkut hati nurani.

Ada suatu saat kita merasa sedih, ada suatu saat biasa saja, atau bahkan terlalu bahagia sampai lupa diri. Itu hal biasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Iya kan?

Tak henti aku menelaah kehadiranmu. Kehadiran sesosok manusia di waktu tak terduga. Apa artinya? Terus-menerus mencari tanpa menemukan jawaban yang pasti. Ini aneh. Bahkan Dia pun tak beri petunjuk, hanya membiarkan umatNya ini menerka-nerka, namun hanya tawa yang terbaca.

Gila. Iya, hampir gila, tapi tentu saja tidak gila, karena Dia tak akan berikan sesuatu yang diluar jangkauan akal kita yang seluas jagat raya ini. Berkali-kali terjatuh di lubang yang sama, bahkan terjerumus, terperosok. Aku kira aku tak dapat kembali, tetapi tidak demikian. Tentu saja, ada waktu-waktu yang tepat untuk Dia menyembuhkan, serta mengembalikan kita ke jalan semula.

Bisa saja aku sebut kehadirannya adalah anugerah. Penghibur saat memang sedang sangat membutuhkan sekedar bahu untuk bersandar. Penghibur itu ada di saat yang dibutuhkan, di saat-saat genting dan memang butuh penghiburan. Ada untuk memecahkan berbagai persoalan hidup, ada di kala dibutuhkan untuk bersandar, menangis, meminta pendapat.

Waktu demi waktu berlalu, tak terasa usia bertambah, masalah bertambah, dan kebenaran mulai terungkap. Anehnya, Dia masih saja mempersatukan, mendorong untuk bertahan.

Tidak, Tuhan.. Ini sudah terlampau sakit. Ditambah hadirnya berbagai pihak yang juga tampak membutuhkannya. Hingga tiba suatu ketika, aku merasa waktunya sudah habis. Sudah cukup pendampingan dan penghiburan yang dia berikan di sela-sela kesibukannya untukku.

Ya, sudah cukup. Ini tidak tepat jika diteruskan. Titik jenuh telah terasa hingga tampak segala jawabannya, kau hanya diutus Tuhan tuk sampaikan rasa bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar