Minggu, 15 September 2013

..dan kau, dia, dan aku

“Sabtu telah habis, sayang, kini waktumu untuknya. Kemudian ku lihat mereka berpelukan~”
Pernahkah terbayang untuk mendua, tiga, empat? Boleh, kan memang tidak ada ikatan?
Ini kisah dilema. Dilema sepasang anak manusia yang kebingungan. Mengapa bingung? Iya, mereka pun tak mengerti apa yang mereka bingungkan.

Komitmen. Mudah diucapkan namun teramat sulit dijalani. Tidak, tidak sulit selama ada niat dan kemauan dari dalam diri, lalu mengapa tidak mau? Belum siap, itu jawaban klisenya. Komitmen itu penting, lebih penting dari sekedar status berpacaran. Mengapa?

Terbayang tidak, suatu ketika kita memiliki pasangan namun tak ada status maupun komitmen dan hanya berlandaskan hati dan saling menyayangi. Apa? Rugi. Iya rugi, saat salah satunya memiliki ikatan hati dengan yang lainnya juga, apa yang bisa kita lakukan? Tak ada, terima saja.

Ada suatu ketika, sepasang yang kebingungan mulai tercerai. Ada yang bercabang hati, pikiran, dan waktunya. Lalu apa? Tak ada yang bisa diperbuat selain menerima. Terlontar kata-kata dari mulut Sang Gadis, Sabtu telah habis, sayang, kini waktumu untuknya.

Apa yang terjadi di sini? Tak ada yang tau yang terjadi sebenarnya. Hati telah mendua namun rasa tidak sirna. Iya, lelaki muda itu pergi di penghujung akhir pekan. Ya, karena akhir pekan terbagi dua. Bergejolak.
Seluas apa hati manusia? Sesungguhnya tak bertepi, dan saat itu terbukti. Berlanjut dan berlanjut, elegi antara tidak lagi dua melainkan tiga anak manusia.

Menangis? Itu yang biasa dilakukan Sang Gadis. Tapi apalah yang bisa dia perbuat untuk merubah keadaan? Tak ada. Mengapa? Tak ada komitmen, tak ada rasa cinta sesungguhnya. Ia hanya dapat terdiam, berpikir dan menimbang. Haruskah dipertahankan?

Rasa bahagia adalah satu-satunya kunci yang menahan dia untuk tetap tinggal. Belum ada kebahagiaan pengganti yang setara untuk mengisi kekosongan hati dan pikirannya.

Melepaskan adalah suatu hal yang teramat berat baginya. Ini diluar nalar. Tidak, nalar manusia tak berbatas, seluas semesta dan sedalam inti bumi. Ada yang bisa dilakukan, tak lain adalah melangkahkan kaki untuk pergi.

Lagi-lagi bertemu titik jenuh. Jenuh akan semua amarah, kekesalan, sakit, tangis, dan tawa yang melebur dalam pusaran harap. Masihkah ada asa tersisa? Tidak, semakin mustahil. Di luar sana, ada yang jauh lebih membutuhkannya daripada Sang Gadis.

Menangis lagi. Iya, hanya itu yang dapat dia lakukan di sela-sela malamnya, hingga berbagai penyakit mulai hinggap karena rasa kesalnya yang tertahan. Selayaknya balon yang terus menerus terisi udara, suatu ketika akan pecah juga.

Hari itu, suasana seakan mendukung untuk segala penyelesaian akan keadaan tak terjelaskan. Dengan segenap keberanian dalam dirinya, Sang Gadis yang semanis kucing persia berubah menjadi singa betina. Betapa terkejutnya lelaki itu, tak terelakkan lagi, tangis lelaki itu pun pecah, sepecah tangisan Sang Gadis. Air mata pun serasa tiada guna. Iya. Sang Gadis telah merelakan tambatan hatinya untuk tertambat pada hati lainnya.
Pergilah. Kata terakhir Sang Gadis kepada lelaki pujaannya.

...kemudian ku lihat mereka berpelukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar