Sabtu, 21 September 2013

Awas Ada Leo!!

Kalo ada orang moody, bossy, dan terkesan selalu gak mau kalah, kemungkinan besar orang itu berzodiak Leo.. Hahaha
Di sini aku coba membahas menurut pandangan orang awam ya, bukan cenayang, peramal, paranormal atau semacamnya :p

Dari simbolnya aja, Leo digambarkan dengan seekor singa jantan. Well, siapa yang gak tau singa jantan Sang Raja di Rimba? Dia penguasa dan cenderung angkuh. Sama halnya dengan kaum-kaum Leo.
Mari menggunakan ilmu "titen" atau "niteni" (bahasa jawa, artinya mengamati dan membaca tanda-tanda) memang mayoritas kaum Leo itu moody, sensitif, bossy, dan hampir semua sifat jelek melekat pada dirinya.
Eits, tunggu dulu.. Leo juga punya banyak sifat positif, dia memang berjiwa leader, cenderung pemberani, baik hati terhadap sesama dan yang membutuhkan, trus kalo marah cuma sebentar kemudian bisa membaik sendiri (lucu ya?). Yang payah adalah kalo Leo udah berhadapan dengan kaum berzodiak sensitif dan sulit memaafkan, pasti bermasalah deh! Hahaha
Sebenernya bisa disingkat istilahnya, kaum Leo itu suka ngedrama! Hahahaha. Tapi... Kadar dramanya akan berkurang seiring tingkat kedewasaannya dan pengaruh lingkungan. Jika ia berada di lingkungan yang baik, nyaman, dan mendukung, tentu kadar dramanya akan lebih sedikit dibandingkan dengan kaum Leo yang hidup dalam keadaan tidak nyaman dan banyak masalah.
Leo dengan Leo bisa bersahabat, tapi persahabatan panas yang mengandung persaingan terselubung. Sesama Leo langka banget yang saling membantu, belum tentu menjatuhkan, setidaknya berkompetisi. Dan lagi, kaum Leo cenderung ingin selalu menang dan berada di atas angin.
Mungkin sebagian besar bahasan di atas tentang Leo cewek ya. Tapi gak juga sih, Leo cowok pun ada yang demikian, cuma mungkin lebih sedikit jumlahnya dibanding cewek, mengingat laki-laki sudah kodratnya lebih menggunakan otak daripada perasaan.
Kok aku bisa ngomong gitu sih? Yaa, sekali lagi ini bukan ilmu gaib, ramalan atau wangsit, hanya membaca karakter dengan ilmu titen. Dan sebagian besar udah aku alami sendiri, karena aku juga Leo.. Hahaha.
Oke, sekian dulu bahasan tentang kaum Leo, besok-besok kita bahas lagi ya, tentang percintaan Leo juga belum kan? Hihihi.

Sumber: berbagai artikel, pengamatan langsung, dan pengalaman!

Minggu, 15 September 2013

Pembawa Kebahagiaan

“Tak henti ku telaah arti kehadiranmu. Namun hanya tawa yang terbaca, kau hanya diutus Tuhan tuk sampaikan rasa bahagia.”
Tuhan Maha Kuasa, ya, Dia bisa saja memberi kita segalanya atau bahkan mengambil segalanya dari kita. Tinggal kita minta saja apa yang kita inginkan dalam doa, maka akan terwujud sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh-Nya.

Ingat kata-kata, "Semua akan indah pada waktuNya" kan? Iya, demikianlah kenyataannya. Waktu yang ditentukan olehnya tak pernah salah. Percaya? Silahkan. Tidak percaya pun itu hak asasi masing-masing umat manusia yang tak dapat diganggu gugat karena menyangkut hati nurani.

Ada suatu saat kita merasa sedih, ada suatu saat biasa saja, atau bahkan terlalu bahagia sampai lupa diri. Itu hal biasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Iya kan?

Tak henti aku menelaah kehadiranmu. Kehadiran sesosok manusia di waktu tak terduga. Apa artinya? Terus-menerus mencari tanpa menemukan jawaban yang pasti. Ini aneh. Bahkan Dia pun tak beri petunjuk, hanya membiarkan umatNya ini menerka-nerka, namun hanya tawa yang terbaca.

Gila. Iya, hampir gila, tapi tentu saja tidak gila, karena Dia tak akan berikan sesuatu yang diluar jangkauan akal kita yang seluas jagat raya ini. Berkali-kali terjatuh di lubang yang sama, bahkan terjerumus, terperosok. Aku kira aku tak dapat kembali, tetapi tidak demikian. Tentu saja, ada waktu-waktu yang tepat untuk Dia menyembuhkan, serta mengembalikan kita ke jalan semula.

Bisa saja aku sebut kehadirannya adalah anugerah. Penghibur saat memang sedang sangat membutuhkan sekedar bahu untuk bersandar. Penghibur itu ada di saat yang dibutuhkan, di saat-saat genting dan memang butuh penghiburan. Ada untuk memecahkan berbagai persoalan hidup, ada di kala dibutuhkan untuk bersandar, menangis, meminta pendapat.

Waktu demi waktu berlalu, tak terasa usia bertambah, masalah bertambah, dan kebenaran mulai terungkap. Anehnya, Dia masih saja mempersatukan, mendorong untuk bertahan.

Tidak, Tuhan.. Ini sudah terlampau sakit. Ditambah hadirnya berbagai pihak yang juga tampak membutuhkannya. Hingga tiba suatu ketika, aku merasa waktunya sudah habis. Sudah cukup pendampingan dan penghiburan yang dia berikan di sela-sela kesibukannya untukku.

Ya, sudah cukup. Ini tidak tepat jika diteruskan. Titik jenuh telah terasa hingga tampak segala jawabannya, kau hanya diutus Tuhan tuk sampaikan rasa bahagia.

..dan kau, dia, dan aku

“Sabtu telah habis, sayang, kini waktumu untuknya. Kemudian ku lihat mereka berpelukan~”
Pernahkah terbayang untuk mendua, tiga, empat? Boleh, kan memang tidak ada ikatan?
Ini kisah dilema. Dilema sepasang anak manusia yang kebingungan. Mengapa bingung? Iya, mereka pun tak mengerti apa yang mereka bingungkan.

Komitmen. Mudah diucapkan namun teramat sulit dijalani. Tidak, tidak sulit selama ada niat dan kemauan dari dalam diri, lalu mengapa tidak mau? Belum siap, itu jawaban klisenya. Komitmen itu penting, lebih penting dari sekedar status berpacaran. Mengapa?

Terbayang tidak, suatu ketika kita memiliki pasangan namun tak ada status maupun komitmen dan hanya berlandaskan hati dan saling menyayangi. Apa? Rugi. Iya rugi, saat salah satunya memiliki ikatan hati dengan yang lainnya juga, apa yang bisa kita lakukan? Tak ada, terima saja.

Ada suatu ketika, sepasang yang kebingungan mulai tercerai. Ada yang bercabang hati, pikiran, dan waktunya. Lalu apa? Tak ada yang bisa diperbuat selain menerima. Terlontar kata-kata dari mulut Sang Gadis, Sabtu telah habis, sayang, kini waktumu untuknya.

Apa yang terjadi di sini? Tak ada yang tau yang terjadi sebenarnya. Hati telah mendua namun rasa tidak sirna. Iya, lelaki muda itu pergi di penghujung akhir pekan. Ya, karena akhir pekan terbagi dua. Bergejolak.
Seluas apa hati manusia? Sesungguhnya tak bertepi, dan saat itu terbukti. Berlanjut dan berlanjut, elegi antara tidak lagi dua melainkan tiga anak manusia.

Menangis? Itu yang biasa dilakukan Sang Gadis. Tapi apalah yang bisa dia perbuat untuk merubah keadaan? Tak ada. Mengapa? Tak ada komitmen, tak ada rasa cinta sesungguhnya. Ia hanya dapat terdiam, berpikir dan menimbang. Haruskah dipertahankan?

Rasa bahagia adalah satu-satunya kunci yang menahan dia untuk tetap tinggal. Belum ada kebahagiaan pengganti yang setara untuk mengisi kekosongan hati dan pikirannya.

Melepaskan adalah suatu hal yang teramat berat baginya. Ini diluar nalar. Tidak, nalar manusia tak berbatas, seluas semesta dan sedalam inti bumi. Ada yang bisa dilakukan, tak lain adalah melangkahkan kaki untuk pergi.

Lagi-lagi bertemu titik jenuh. Jenuh akan semua amarah, kekesalan, sakit, tangis, dan tawa yang melebur dalam pusaran harap. Masihkah ada asa tersisa? Tidak, semakin mustahil. Di luar sana, ada yang jauh lebih membutuhkannya daripada Sang Gadis.

Menangis lagi. Iya, hanya itu yang dapat dia lakukan di sela-sela malamnya, hingga berbagai penyakit mulai hinggap karena rasa kesalnya yang tertahan. Selayaknya balon yang terus menerus terisi udara, suatu ketika akan pecah juga.

Hari itu, suasana seakan mendukung untuk segala penyelesaian akan keadaan tak terjelaskan. Dengan segenap keberanian dalam dirinya, Sang Gadis yang semanis kucing persia berubah menjadi singa betina. Betapa terkejutnya lelaki itu, tak terelakkan lagi, tangis lelaki itu pun pecah, sepecah tangisan Sang Gadis. Air mata pun serasa tiada guna. Iya. Sang Gadis telah merelakan tambatan hatinya untuk tertambat pada hati lainnya.
Pergilah. Kata terakhir Sang Gadis kepada lelaki pujaannya.

...kemudian ku lihat mereka berpelukan.