Minggu, 27 Oktober 2013

MEMBERANTAS FENOMENA “MASA BODOH” DEMI MENGATASI KRISIS KEPEMIMPINAN DI INDONESIA



Naskah Asli Hasil Kongres Pemuda
Sudah 68 tahun kita merdeka dari penjajahan, artinya mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia bukan lagi suatu kemustahilan. Namun hingga detik ini Indonesia belum bisa terlepas dari berbagai problematika yang melanda, sehingga hal tersebut seolah-olah hanya mimpi di siang bolong alias tidak dapat terwujud. Masalah yang berupa masalah bencana alam hingga terbunuhnya TKW di negeri orang belum terselesaikan. Kasus bertema korupsi hingga masalah demonstrasi dan mogok kerja demi kenaikan gaji, bobroknya sistem pendidikan hingga sempitnya lapangan pekerjaan masih terus bergulir. Hal-hal tersebut tentunya memberikan kenyataan pahit di tengah masyarakat.

Fenomena yang sedang berkembang di Indonesia saat ini yaitu masyarakat sedang berbondong-bondong bertingkah “masa bodoh” terhadap kasus-kasus tersebut. Biarlah urusan tersebut menjadi urusan pihak-pihak yang berwenang dan cukuplah masyarakat awam sibuk dengan masalah rumah tangganya sendiri. Pahitnya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin merosot sebagai tanda berkembangnya fenomena “masa bodoh” ini.

 Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengenai tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, hasil survei menunjukkan bahwa persepsi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun sejumlah 15% menjadi 37.7%, dari perolehan semula yakni 52.2%. Kemudian, mari kita sandingkan dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap presiden kita, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut hasil survei LSI tahun 2012, popularitas SBY turun menjadi 33%, padahal sebelumnya sebanyak 65%.

Menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan presiden kurang lebih disebabkan karena belum mampunya pihak-pihak tersebut memberantas permasalahan-permasalahan yang ada secara maksimal. Ironisnya, saat ini Presiden tampaknya juga sedang galau dengan beragam masalah, mulai masalah internal partainya, masalah pribadi keluarganya yang di blow up oleh media massa, hingga permasalahan di tengah masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya sebagai pemimpin negara.

Akibatnya, fenomena “masa bodoh” akan terus menjamur di kalangan masyarakat dan budaya pesimis terus berkembang dan mengakar. Budaya pesimis yang menuju pada keputusasaan masyarakat akan nasib bangsa Indonesia yang tidak pernah lepas dari masalah tentu sangat berbahaya karena pesimisme mampu mematikan semangat pembangunan di segala bidang dan mampu menggugurkan niat bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

    Lantas, kepada siapa nasib bangsa Indonesia digantungkan? Jawabannya yakni: pemimpin. Mencatut pendapat Kofi Anan (Sekjen PBB 1997-2006) yakni "Obstacles to democracy have little to do with culture or religion, and much more to do with the desire of those in power to maintain their position at any cost." Pendapat tersebut kurang lebih menyatakan bahwa nasib suatu negara demokrasi tergantung dari keinginan atau hasrat dari seorang pemimpin dalam mengurus negaranya atau dengan kata lain faktor pemimpin memegang peranan penting dalam kemajuan suatu bangsa. Di sisi lain, munculnya fenomena “masa bodoh” di tengah masyarakat, menunjukkan indikasi kuat tentang adanya suatu krisis di negara kita ini, yaitu krisis kepemimpinan, di mana pemimpin yang ada belum mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sebagai orang awam, penulis berpendapat bahwa krisis kepemimpinan yang melanda bangsa Indonesia saat ini kurang lebih disebabkan karena belum adanya bibit-bibit unggul yang muncul sebagai wakil rakyat di istana kepresidenan. Hal ini bukan disebabkan orang Indonesia tidak ada yang capable sebagai pemimpin, bukan pula karena tidak berbakat menjadi pemimpin, namun disebabkan pengaruh fenomena “masa bodoh” yang berujung pada kegalauan generasi muda untuk menjadi seorang presiden.

Fenomena “masa bodoh” mengantarkan masyarakat cenderung lupa akan tujuan didirikannya bangsa Indonesia ini. Kealpaan terhadap hal tersebut melunturkan intention (niat) masyarakat pada umumnya untuk ikut serta dalam proses pembangunan dengan memegang tampuk kepemimpinan. Buktinya dalam setiap pemilu capres, nama-nama yang mencalonkan diri hingga tahap akhir tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Calonnya itu-itu saja, dengan track record yang tidak jauh berbeda dengan calon-calon sebelumnya. Di sinilah letak krisis kepemimpinan yang terjadi, di mana orang-orang yang berpotensi menjadi pemimpin tidak muncul, malah digantikan oleh pihak-pihak yang nyatanya belum mampu menjadi seorang pemimpin negara.

Padahal sesungguhnya Indonesia adalah negara yang kaya. Bukan hanya kaya akan kekayaan alam yang melimpah ruah tetapi Indonesia adalah negeri yang kaya akan potensi sumber daya manusianya. Tapi kenapa harus “itu-itu” saja yang harus kita pilih untuk memimpin negeri ini? Ingatkah kita semua kalau Indonesia diperjuangkan hak kebebasannya oleh rakyat Indonesia yang rela mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawanya sendiri demi menaikkan bendera merah-putih ke tiang tertinggi? Saat mempertaruhkan nyawa, mereka dipimpin oleh para pemuda yang berani dan optimis. Mereka berani menerjang setiap halangan yang menghadang. Mereka optimis akan kelebihan yang menghasilkan kekuatan dan mengesampingkan kekurangan yang bisa melemahkan mereka. Mereka itu masih belia dan masih amatir, tapi semangat dan aktualisasi  mereka melebihi apa yang bisa dilakukan pemimpin kita saat ini.

Pemuda yang bisa menggerakan! Kalimat itu lah yang sesungguhnya menjadi jawaban atas problema yang dihadapi di negeri ini. Pemimpin itu bukan perkara kodrat untuk terlahir tapi pemimpin adalah perkara bagaimana pemimpin itu di bentuk. Pemimpin tidak datang dengan sendirinya tapi pemimpin dibentuk dengan beberapa tahap sehingga apa yang dia kerjakan bermanfaat untuk rakyatnya. Pemimpin menawarkan keoptimisan untuk masa depan. Pemimpin bukan lagi membahas masa lalu yang pernah kita capai. Pemimpin membahas apa yang akan kita kerjakan ke depan sehingga apa yang dikerjakan saat ini tentu lebih baik dari pada yang dikerjakan di masa lampau.

Sesungguhnya pemikiran para pemudalah yang seperti ini. Para pemuda yang dianggap masih amatir ini harusnya diberi kesempatan untuk berkontribusi mengubah negerinya menjadi negeri yang mempunyai taring. Tidak lembek jika di ganggu, tidak lemah jika di hantam. Alasan karena banyak pemuda yang masih amatir dan emosional ini sungguh menggelitik, bukankah para pendiri bangsa ini juga dulunya masih amatir sehingga harus di buang ke pelosok negeri? Bukankah mereka juga emosional terhadap negara lain yang mencoba merebut negeri ini? Bukankah ada kemiripan terhadap setiap tingkah laku pemuda? Lalu kenapa saat ini pemuda tidak diberi kesempatan yang lebih bahkan sama?

Sesungguhnya karena kebosanan kita menunggu kesempatan untuk memimpin negeri ini kita balas dengan hasil. Banyak gerakan-gerakan pemuda yang memberikan nafas baru untuk Indonesia. Mulai dari gerakan yang berbasis pendidikan, budaya, sosial, hingga agama. Banyak mereka yang mengabdikan dirinya untuk menyalurkan ilmu yang mereka dapat dari pendidikan di bangku sekolah kepada sesamanya yang tidak seberuntung mereka. Gerakan-gerakan yang ada saat ini adalah bukti dimana para pemuda geram dengan tingkah lamban yang dilakukan pemimpin kita. Kenapa harus lamban jika hasil yang didapatkan tidak maksimal? Kenapa tidak bisa cepat dan tegas? Kenapa? Karena mereka mempertimbangkan ilmu kehati-hatian. Ilmu ini lah yang menghambat kita untuk melompat lebih tinggi karena takut terjatuh dan sakit.

Setidaknya dengan munculnya gerakan-gerakan yang diusung oleh pemuda-pemudi Indonesia, rakyat Indonesia harus menyadari bahwa negeri ini masih mencetak bibit-bibit unggul, negeri ini masih mencetak bibit-bibit pejuang, negeri ini masih mampu untuk melahirkan petarung. Kita tidak terbelakang namun kita tidak berani untuk terjun terlalu dalam. Kita tidak tertinggal namun kita cenderung jatuh ke dalam lembah kehati-hatian. Kita bukan negara miskin sumber daya manusia namun kita hanya takut untuk menerobos lingkar hitam yang selama ini menggumpal.

28 Oktober tahun ini, semoga menjadi cerminan kita akan semua hal itu. Cerminan bahwa sesuatu yang besar harus kita mulai, sesuatu yang genting harus kita laksanakan sesegera mungkin. Kita mungkin terlambat dari negara lain jika baru sekarang melakukan pergerakan di semua bidang dengan pemuda sebagai tonggak yang mantap untuk menjadi pemimpin, tapi kita bukan negara yang hanya hidup di zona nyaman lalu menyesal kenapa kita tidak berani mengambil risiko. Kita bukan itu. Buktikan dengan lantang dan tegas kalau kita bukan itu. Bukan!


Penulis : Rizkia Amalia IMAYO 2013, Rizky Permata Najatafani (@kikinajatafani_) IMAYO 2012
Editor : Riezha Rizky Daniar (@riezhaichaa) IMAYO 2009
http://imayo1967.blogspot.com/

Kamis, 24 Oktober 2013

Special Birthday Presents for Him / Her

 


Kalau pacar ulang tahun, pasti kita sibuk mikir mau kasih kado apa. Keliling dari toko ke toko mencari benda kesukaan atau yang sangat diinginkannya. Mainstream.
Pernah gak sih, terpikir untuk kasih hadiah yang beda?
Coba pikir dulu, pacaran kan bukan ikatan resmi, masih rentan putus, belum terikat kuat seperti ikatan pernikahan. Lihat deh barang-barang dari mantan kamu, gimana keadaannya sekarang? Dibalikin? Dibakar? Udah dibuang?
Mungkin ada yang masih dipakai atau disimpan, tapi tentunya akan menjadi barang yang tersembunyi dan kita akan sungkan apabila barang-barang tersebut dilihat atau ketahuan pasangan kita yang sekarang.
Well, memang sih gak semua orang berpikir negatif mengenai barang pemberian mantan, dan banyak pula pasangan yang gak insecure tentang hal-hal berbau mantan pacar, tapi... Who knows~ hihihi
Nah... Ada ide nih, mungkin udah banyak dilakukan juga oleh sebagian orang, tapi pasti masih banyak juga yang belum tahu. Saat pacar kita ulang tahun, kasih aja video spesial, kue tart atau hadiah kecil yang gak mahal dan (kemungkinan terburuk) jika putus gak akan kita ungkit-ungkit lagi.. Hahaha
Moment surprise yang manis akan lebih berkesan daripada kado-kado mahal yang nantinya bisa saja hanya dibuang, dibakar, diberikan ke orang, atau kita sesali karena telah memberikannya. Kado-kado kecil di atas misalnya berupa bunga, cokelat, atau foto-foto sweet memories yang dicetak dan dibingkai.
Hal lain misalnya untuk pasangan LDR. Surprise yang paling membahagiakan bagi pasangan LDR ialah kedatangan kita dihadapannya saat dia ulang tahun. Tanpa membawa apa-apa? Ya, mungkin cukup kue tart dengan lilin, bunga, atau cokelat. Itu saja.
Bagaimana kalau gak bisa datang menemuinya karena sibuk atau tak ada dana, dan gak bisa kirim kado apapun? Gampang, buat saja video, bisa video sungguhan atau stop motion (berupa gabungan foto-foto yang menyerupai slide atau animasi)
Gak bisa bikinnya? Ya kalii, masa sih gak punya temen yang bisa dimintain tolong? Cerdas dong! (Hehehe)
Gimana cara ngasihinnya ke dia? Ini jaman modern, guys.. Ada Youtube! Gak punya modem? Gak punya laptop? Sisihin sedikit uang jajan untuk ke warnet. Simple. Saat hari ulang tahunnya, send link video Youtube kamu lewat Twitter, Facebook, atau lewat sms dan bbm juga boleh, yang penting dia baca dan kemudian bisa dia buka.
Memang sih untuk membuat suatu rencana kejutan gak bisa seorang diri, makanya jadilah pribadi yang menyenangkan biar dibantuin deh sama temen-temen. Hihihi. Gak cuma temen kamu aja, tapi juga temen-temen pasangan kamu, kalau bisa ajaklah kerja sama juga.
Guys, semahal apapun kado yang kita berikan buat pacar kita, tak akan senilai berharganya dengan diri kita pasangannya. Yah, walaupun mungkin memang ada orang-orang yang sifatnya matre atau mengincar harta kita. Huahahaha (sinetron banget). Eitss, iya, kado-kado dan kejutan kecil yang kita berikan secara tak langsung juga bisa mengetes kesungguhan pasangan kita loh. Kalau dia matre, tentu saja dia akan kesal karena kado yang kita berikan gak bernilai apa-apa bagi dia. Kalau dia tulus, serius, dan berpikir jangka panjang, tentu dia akan lebih terkesan dengan moment yang kamu ciptakan daripada nilai kado atau hadiah yang dia terima.
Jadi, kado spesial apa yang akan kamu berikan di hari ulang tahunnya? :) 



Sabtu, 21 September 2013

Awas Ada Leo!!

Kalo ada orang moody, bossy, dan terkesan selalu gak mau kalah, kemungkinan besar orang itu berzodiak Leo.. Hahaha
Di sini aku coba membahas menurut pandangan orang awam ya, bukan cenayang, peramal, paranormal atau semacamnya :p

Dari simbolnya aja, Leo digambarkan dengan seekor singa jantan. Well, siapa yang gak tau singa jantan Sang Raja di Rimba? Dia penguasa dan cenderung angkuh. Sama halnya dengan kaum-kaum Leo.
Mari menggunakan ilmu "titen" atau "niteni" (bahasa jawa, artinya mengamati dan membaca tanda-tanda) memang mayoritas kaum Leo itu moody, sensitif, bossy, dan hampir semua sifat jelek melekat pada dirinya.
Eits, tunggu dulu.. Leo juga punya banyak sifat positif, dia memang berjiwa leader, cenderung pemberani, baik hati terhadap sesama dan yang membutuhkan, trus kalo marah cuma sebentar kemudian bisa membaik sendiri (lucu ya?). Yang payah adalah kalo Leo udah berhadapan dengan kaum berzodiak sensitif dan sulit memaafkan, pasti bermasalah deh! Hahaha
Sebenernya bisa disingkat istilahnya, kaum Leo itu suka ngedrama! Hahahaha. Tapi... Kadar dramanya akan berkurang seiring tingkat kedewasaannya dan pengaruh lingkungan. Jika ia berada di lingkungan yang baik, nyaman, dan mendukung, tentu kadar dramanya akan lebih sedikit dibandingkan dengan kaum Leo yang hidup dalam keadaan tidak nyaman dan banyak masalah.
Leo dengan Leo bisa bersahabat, tapi persahabatan panas yang mengandung persaingan terselubung. Sesama Leo langka banget yang saling membantu, belum tentu menjatuhkan, setidaknya berkompetisi. Dan lagi, kaum Leo cenderung ingin selalu menang dan berada di atas angin.
Mungkin sebagian besar bahasan di atas tentang Leo cewek ya. Tapi gak juga sih, Leo cowok pun ada yang demikian, cuma mungkin lebih sedikit jumlahnya dibanding cewek, mengingat laki-laki sudah kodratnya lebih menggunakan otak daripada perasaan.
Kok aku bisa ngomong gitu sih? Yaa, sekali lagi ini bukan ilmu gaib, ramalan atau wangsit, hanya membaca karakter dengan ilmu titen. Dan sebagian besar udah aku alami sendiri, karena aku juga Leo.. Hahaha.
Oke, sekian dulu bahasan tentang kaum Leo, besok-besok kita bahas lagi ya, tentang percintaan Leo juga belum kan? Hihihi.

Sumber: berbagai artikel, pengamatan langsung, dan pengalaman!

Minggu, 15 September 2013

Pembawa Kebahagiaan

“Tak henti ku telaah arti kehadiranmu. Namun hanya tawa yang terbaca, kau hanya diutus Tuhan tuk sampaikan rasa bahagia.”
Tuhan Maha Kuasa, ya, Dia bisa saja memberi kita segalanya atau bahkan mengambil segalanya dari kita. Tinggal kita minta saja apa yang kita inginkan dalam doa, maka akan terwujud sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh-Nya.

Ingat kata-kata, "Semua akan indah pada waktuNya" kan? Iya, demikianlah kenyataannya. Waktu yang ditentukan olehnya tak pernah salah. Percaya? Silahkan. Tidak percaya pun itu hak asasi masing-masing umat manusia yang tak dapat diganggu gugat karena menyangkut hati nurani.

Ada suatu saat kita merasa sedih, ada suatu saat biasa saja, atau bahkan terlalu bahagia sampai lupa diri. Itu hal biasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Iya kan?

Tak henti aku menelaah kehadiranmu. Kehadiran sesosok manusia di waktu tak terduga. Apa artinya? Terus-menerus mencari tanpa menemukan jawaban yang pasti. Ini aneh. Bahkan Dia pun tak beri petunjuk, hanya membiarkan umatNya ini menerka-nerka, namun hanya tawa yang terbaca.

Gila. Iya, hampir gila, tapi tentu saja tidak gila, karena Dia tak akan berikan sesuatu yang diluar jangkauan akal kita yang seluas jagat raya ini. Berkali-kali terjatuh di lubang yang sama, bahkan terjerumus, terperosok. Aku kira aku tak dapat kembali, tetapi tidak demikian. Tentu saja, ada waktu-waktu yang tepat untuk Dia menyembuhkan, serta mengembalikan kita ke jalan semula.

Bisa saja aku sebut kehadirannya adalah anugerah. Penghibur saat memang sedang sangat membutuhkan sekedar bahu untuk bersandar. Penghibur itu ada di saat yang dibutuhkan, di saat-saat genting dan memang butuh penghiburan. Ada untuk memecahkan berbagai persoalan hidup, ada di kala dibutuhkan untuk bersandar, menangis, meminta pendapat.

Waktu demi waktu berlalu, tak terasa usia bertambah, masalah bertambah, dan kebenaran mulai terungkap. Anehnya, Dia masih saja mempersatukan, mendorong untuk bertahan.

Tidak, Tuhan.. Ini sudah terlampau sakit. Ditambah hadirnya berbagai pihak yang juga tampak membutuhkannya. Hingga tiba suatu ketika, aku merasa waktunya sudah habis. Sudah cukup pendampingan dan penghiburan yang dia berikan di sela-sela kesibukannya untukku.

Ya, sudah cukup. Ini tidak tepat jika diteruskan. Titik jenuh telah terasa hingga tampak segala jawabannya, kau hanya diutus Tuhan tuk sampaikan rasa bahagia.

..dan kau, dia, dan aku

“Sabtu telah habis, sayang, kini waktumu untuknya. Kemudian ku lihat mereka berpelukan~”
Pernahkah terbayang untuk mendua, tiga, empat? Boleh, kan memang tidak ada ikatan?
Ini kisah dilema. Dilema sepasang anak manusia yang kebingungan. Mengapa bingung? Iya, mereka pun tak mengerti apa yang mereka bingungkan.

Komitmen. Mudah diucapkan namun teramat sulit dijalani. Tidak, tidak sulit selama ada niat dan kemauan dari dalam diri, lalu mengapa tidak mau? Belum siap, itu jawaban klisenya. Komitmen itu penting, lebih penting dari sekedar status berpacaran. Mengapa?

Terbayang tidak, suatu ketika kita memiliki pasangan namun tak ada status maupun komitmen dan hanya berlandaskan hati dan saling menyayangi. Apa? Rugi. Iya rugi, saat salah satunya memiliki ikatan hati dengan yang lainnya juga, apa yang bisa kita lakukan? Tak ada, terima saja.

Ada suatu ketika, sepasang yang kebingungan mulai tercerai. Ada yang bercabang hati, pikiran, dan waktunya. Lalu apa? Tak ada yang bisa diperbuat selain menerima. Terlontar kata-kata dari mulut Sang Gadis, Sabtu telah habis, sayang, kini waktumu untuknya.

Apa yang terjadi di sini? Tak ada yang tau yang terjadi sebenarnya. Hati telah mendua namun rasa tidak sirna. Iya, lelaki muda itu pergi di penghujung akhir pekan. Ya, karena akhir pekan terbagi dua. Bergejolak.
Seluas apa hati manusia? Sesungguhnya tak bertepi, dan saat itu terbukti. Berlanjut dan berlanjut, elegi antara tidak lagi dua melainkan tiga anak manusia.

Menangis? Itu yang biasa dilakukan Sang Gadis. Tapi apalah yang bisa dia perbuat untuk merubah keadaan? Tak ada. Mengapa? Tak ada komitmen, tak ada rasa cinta sesungguhnya. Ia hanya dapat terdiam, berpikir dan menimbang. Haruskah dipertahankan?

Rasa bahagia adalah satu-satunya kunci yang menahan dia untuk tetap tinggal. Belum ada kebahagiaan pengganti yang setara untuk mengisi kekosongan hati dan pikirannya.

Melepaskan adalah suatu hal yang teramat berat baginya. Ini diluar nalar. Tidak, nalar manusia tak berbatas, seluas semesta dan sedalam inti bumi. Ada yang bisa dilakukan, tak lain adalah melangkahkan kaki untuk pergi.

Lagi-lagi bertemu titik jenuh. Jenuh akan semua amarah, kekesalan, sakit, tangis, dan tawa yang melebur dalam pusaran harap. Masihkah ada asa tersisa? Tidak, semakin mustahil. Di luar sana, ada yang jauh lebih membutuhkannya daripada Sang Gadis.

Menangis lagi. Iya, hanya itu yang dapat dia lakukan di sela-sela malamnya, hingga berbagai penyakit mulai hinggap karena rasa kesalnya yang tertahan. Selayaknya balon yang terus menerus terisi udara, suatu ketika akan pecah juga.

Hari itu, suasana seakan mendukung untuk segala penyelesaian akan keadaan tak terjelaskan. Dengan segenap keberanian dalam dirinya, Sang Gadis yang semanis kucing persia berubah menjadi singa betina. Betapa terkejutnya lelaki itu, tak terelakkan lagi, tangis lelaki itu pun pecah, sepecah tangisan Sang Gadis. Air mata pun serasa tiada guna. Iya. Sang Gadis telah merelakan tambatan hatinya untuk tertambat pada hati lainnya.
Pergilah. Kata terakhir Sang Gadis kepada lelaki pujaannya.

...kemudian ku lihat mereka berpelukan.