![]() |
| Naskah Asli Hasil Kongres Pemuda |
Fenomena yang sedang berkembang di
Indonesia saat ini yaitu masyarakat sedang berbondong-bondong bertingkah “masa
bodoh” terhadap kasus-kasus tersebut. Biarlah urusan tersebut menjadi urusan
pihak-pihak yang berwenang dan cukuplah masyarakat awam sibuk dengan masalah
rumah tangganya sendiri. Pahitnya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah semakin merosot sebagai tanda berkembangnya fenomena “masa bodoh”
ini.
Menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI)
mengenai tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, hasil survei
menunjukkan bahwa persepsi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah menurun
sejumlah 15% menjadi 37.7%, dari perolehan semula yakni 52.2%. Kemudian, mari
kita sandingkan dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap presiden kita,
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut hasil survei LSI tahun 2012,
popularitas SBY turun menjadi 33%, padahal sebelumnya sebanyak 65%.
Menurunnya tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap pemerintah dan presiden kurang lebih disebabkan karena belum
mampunya pihak-pihak tersebut memberantas permasalahan-permasalahan yang ada
secara maksimal. Ironisnya, saat ini Presiden tampaknya juga sedang galau dengan beragam masalah, mulai
masalah internal partainya, masalah pribadi keluarganya yang di blow up oleh media massa, hingga
permasalahan di tengah masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya sebagai
pemimpin negara.
Akibatnya, fenomena “masa
bodoh” akan terus menjamur di kalangan masyarakat dan budaya pesimis terus
berkembang dan mengakar. Budaya pesimis yang menuju pada keputusasaan
masyarakat akan nasib bangsa Indonesia yang tidak pernah lepas dari masalah
tentu sangat berbahaya karena pesimisme mampu mematikan semangat pembangunan di
segala bidang dan mampu menggugurkan niat bangsa Indonesia untuk melakukan
perubahan ke arah yang lebih baik.
Lantas, kepada siapa
nasib bangsa Indonesia digantungkan? Jawabannya yakni:
pemimpin. Mencatut pendapat Kofi Anan (Sekjen PBB 1997-2006) yakni "Obstacles to democracy have little to
do with culture or religion, and much more to do with the desire of those in
power to maintain their position at any cost." Pendapat tersebut
kurang lebih menyatakan bahwa nasib suatu negara demokrasi tergantung dari
keinginan atau hasrat dari seorang pemimpin dalam mengurus negaranya atau dengan
kata lain faktor pemimpin memegang peranan penting dalam kemajuan suatu bangsa.
Di sisi lain, munculnya fenomena “masa bodoh” di tengah masyarakat, menunjukkan
indikasi kuat tentang adanya suatu krisis di negara kita ini, yaitu krisis
kepemimpinan, di mana pemimpin yang ada belum mampu membawa Indonesia ke arah
yang lebih baik.
Sebagai orang awam, penulis
berpendapat bahwa krisis kepemimpinan yang melanda bangsa Indonesia saat ini
kurang lebih disebabkan karena belum adanya bibit-bibit unggul yang muncul
sebagai wakil rakyat di istana kepresidenan. Hal ini bukan disebabkan orang
Indonesia tidak ada yang capable sebagai
pemimpin, bukan pula karena tidak berbakat menjadi pemimpin, namun disebabkan
pengaruh fenomena “masa bodoh” yang berujung pada kegalauan generasi muda untuk
menjadi seorang presiden.
Fenomena “masa bodoh” mengantarkan
masyarakat cenderung lupa akan tujuan didirikannya bangsa Indonesia ini.
Kealpaan terhadap hal tersebut melunturkan intention
(niat) masyarakat pada umumnya untuk ikut serta dalam proses pembangunan
dengan memegang tampuk kepemimpinan. Buktinya dalam setiap pemilu capres,
nama-nama yang mencalonkan diri hingga tahap akhir tidak menunjukkan perubahan
yang signifikan. Calonnya itu-itu saja, dengan track record yang tidak jauh berbeda dengan calon-calon sebelumnya.
Di sinilah letak krisis kepemimpinan yang terjadi, di mana orang-orang yang
berpotensi menjadi pemimpin tidak muncul, malah digantikan oleh pihak-pihak
yang nyatanya belum mampu menjadi seorang pemimpin negara.
Padahal
sesungguhnya Indonesia adalah negara yang kaya. Bukan hanya kaya akan kekayaan
alam yang melimpah ruah tetapi Indonesia adalah negeri yang kaya akan potensi
sumber daya manusianya. Tapi kenapa harus “itu-itu” saja yang harus kita pilih
untuk memimpin negeri ini? Ingatkah kita semua kalau Indonesia diperjuangkan
hak kebebasannya oleh rakyat Indonesia yang rela mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawanya sendiri
demi menaikkan bendera merah-putih ke tiang tertinggi? Saat mempertaruhkan
nyawa, mereka dipimpin oleh para pemuda yang berani dan optimis. Mereka berani
menerjang setiap halangan yang menghadang. Mereka optimis akan kelebihan yang
menghasilkan kekuatan dan mengesampingkan
kekurangan yang bisa melemahkan mereka. Mereka itu masih belia dan masih amatir, tapi semangat dan
aktualisasi mereka melebihi apa yang bisa dilakukan
pemimpin kita saat ini.
Pemuda
yang bisa menggerakan! Kalimat itu lah yang sesungguhnya menjadi jawaban atas
problema yang dihadapi di negeri ini. Pemimpin itu bukan perkara kodrat untuk
terlahir tapi pemimpin adalah perkara bagaimana pemimpin itu di bentuk.
Pemimpin tidak datang dengan sendirinya tapi pemimpin dibentuk dengan beberapa
tahap sehingga apa yang dia kerjakan bermanfaat untuk rakyatnya. Pemimpin
menawarkan keoptimisan untuk masa depan. Pemimpin bukan lagi membahas masa lalu
yang pernah kita capai. Pemimpin membahas apa yang akan kita kerjakan ke depan
sehingga apa yang dikerjakan
saat ini tentu lebih baik
dari pada yang dikerjakan di masa lampau.
Sesungguhnya
pemikiran para pemudalah yang seperti ini. Para pemuda yang dianggap masih
amatir ini harusnya diberi kesempatan untuk berkontribusi mengubah negerinya
menjadi negeri yang mempunyai taring. Tidak lembek jika di ganggu, tidak lemah
jika di hantam. Alasan karena banyak pemuda yang masih amatir dan emosional ini
sungguh menggelitik, bukankah para pendiri bangsa ini juga dulunya masih amatir
sehingga harus di buang ke pelosok negeri? Bukankah mereka juga emosional
terhadap negara lain yang mencoba merebut negeri ini? Bukankah ada kemiripan terhadap
setiap tingkah laku pemuda? Lalu kenapa saat ini pemuda tidak diberi kesempatan
yang lebih bahkan sama?
Sesungguhnya
karena kebosanan kita menunggu kesempatan untuk memimpin negeri ini kita balas
dengan hasil. Banyak gerakan-gerakan pemuda yang memberikan nafas baru untuk Indonesia. Mulai dari
gerakan yang berbasis pendidikan, budaya, sosial, hingga agama. Banyak
mereka yang mengabdikan dirinya untuk menyalurkan ilmu yang mereka dapat dari
pendidikan di bangku sekolah kepada sesamanya yang tidak seberuntung mereka.
Gerakan-gerakan yang ada saat ini adalah bukti dimana para pemuda geram dengan
tingkah lamban yang dilakukan pemimpin kita. Kenapa harus lamban jika hasil
yang didapatkan tidak maksimal? Kenapa tidak bisa cepat dan tegas? Kenapa?
Karena mereka mempertimbangkan ilmu kehati-hatian. Ilmu ini lah yang menghambat
kita untuk melompat lebih tinggi karena takut terjatuh dan sakit.
Setidaknya
dengan munculnya gerakan-gerakan yang diusung oleh pemuda-pemudi Indonesia,
rakyat Indonesia harus menyadari bahwa negeri
ini masih mencetak bibit-bibit unggul, negeri
ini masih mencetak bibit-bibit pejuang, negeri
ini masih mampu untuk melahirkan petarung. Kita tidak terbelakang namun kita
tidak berani untuk terjun terlalu dalam. Kita tidak tertinggal namun kita
cenderung jatuh ke dalam lembah kehati-hatian. Kita bukan negara miskin sumber
daya manusia namun kita hanya takut untuk menerobos lingkar hitam yang selama
ini menggumpal.
28
Oktober tahun ini, semoga menjadi cerminan kita akan semua hal itu. Cerminan
bahwa sesuatu yang besar harus kita mulai, sesuatu yang genting harus kita
laksanakan sesegera mungkin. Kita mungkin terlambat dari negara lain jika baru
sekarang melakukan pergerakan di semua bidang dengan pemuda sebagai tonggak yang mantap untuk
menjadi pemimpin,
tapi kita bukan negara yang hanya hidup di zona nyaman lalu menyesal kenapa
kita tidak berani mengambil risiko. Kita bukan itu. Buktikan dengan lantang dan
tegas kalau kita bukan itu. Bukan!
Penulis : Rizkia Amalia IMAYO 2013, Rizky Permata Najatafani (@kikinajatafani_) IMAYO 2012
Editor : Riezha Rizky Daniar (@riezhaichaa) IMAYO 2009
http://imayo1967.blogspot.com/
http://imayo1967.blogspot.com/


